Tahu kan, kalau satu makhluk hidup memiliki nama yang berbeda di tempat yang berbeda? Itulah kearifan lokal. Tapi kearifan lokal itu bisa jadi masalah kalau mau digunakan untuk pembelajaran bersama-sama di seluruh dunia. Misal, di Indonesia, secara umum kita mengenal singkong. Di tanah Jawa, singkong dikenal dengan sebutan telo. Ada juga yang menyebut singkong dengan ubi kayu. Sementara dalam bahasa inggris, singkong disebut dengan cassava. Supaya para ahli botani di dunia tidak mumet, maka diberi nama ilmiah Manihot esculenta.
Pemberian nama ilmiah ini ada aturannya. Supaya konsisten, maka penamaan ini diatur oleh lembaga internasional. Untuk penamaan kerajaan hewan diatur oleh International Code of Zoological Nomenclature (ICZN), sedangkan untuk penamaan kerajaan alga, jamur, dan tanaman diatur oleh International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICNafp atau ICN).
Tata nama ilmiah ini sering juga disebut dengan binominal nomenklatur. Disebut binomial, karena setiap nama spesies selalu terdiri dari 2 kata dalam bahasa latin, atau kata yang di-latin-kan. Bahasa latin dipilih karena bahasa ini dianggap sudah matang dan tidak akan berubah lagi. Bandingkan dengan bahasa inggris dan bahasa indonesia yang sering berubah.
Pencetus ide pemberian nama ilmiah ini adalah Carolus Linnaeus (1707-1708). Beliau dianggap sebagai bapak taksonomi modern. Singkat cerita, banyak organisme yang sudah diberi nama ilmiah oleh Linnaeus.
Sebelum diberi nama spesies, setiap organisme dikelompokkan dulu sesuai dengan kemiripannya. Pengelompokan ini menghasilkan struktur sebagai berikut (dalam bahasa indonesia):
| Alga, Jamur, Tanaman | Hewan |
| Kerajaan | Kerajaan |
| Divisi | Filum |
| Kelas | Kelas |
| Ordo | Ordo |
| Keluarga (famili) | Keluarga (famili) |
| Genus | Genus |
| Spesies | Spesies |
| Sub-spesies / kultivar / hibrida | Sub-spesies / hibrida |
Terkadang, ada tambahan sub divisi/sub filum, sub kelas, sub ordo, dan sebagainya. Tapi intinya, seperti di atas. Makin ke atas, makin banyak kemiripan.
Kita tidak usah bahas satu persatu tiap level. Kan ini bukan mata pelajaran biologi. Yang perlu kita pahami adalah genus dan spesies.
- Nama spesies selalu terdiri dari 2 kata. Kata pertama adalah nama genusnya, kata kedua adalah nama spesiesnya.
- Dalam penulisan nama spesies, kata pertama (genus) selalu ditulis diawali dengan huruf besar, kata kedua ditulis dengan huruf kecil semua. Aturan ini berlaku pula untuk penulisan dalam judul. Contoh judul buku: "Pengaruh Pestisida Kontak pada Pembasmian Hama pada Tanaman Oryza sativa"
- Penulisan spesies harus dibedakan dari penulisan biasa dengan membuat tulisan miring. Jika ditulis dengan tulisan tangan, maka harus diberi garis bawah.
- Jika genus sudah pernah ditulis sekali, maka berikutnya boleh disingkat dengan hanya menuliskan huruf awalnya. Contoh: Homo sapiens menjadi H. sapiens.
Kata ketiga
Terkadang nama spesies ditulis dengan 3 kata. Kata ketiga bisa menunjukkan:
- Sub spesies, biasanya tidak ada keterangan apa pun.
- Kultivar (disingkat cv.) adalah hasil seleksi oleh manusia. Kultivar digunakan dalam dunia tumbuhan. Contoh: Gymnocalicium mihanovichii cv. kikko
- Varian (disingkat var.) adalah hasil perkawinan silang antar spesies hasil dari alam, tanpa campur tangan manusia. Contoh: G. mihanovichii var. filadelfiense
- Nama orang pendefinisi spesies, biasanya ditulis dalam bentuk singkatan, sesuai dengan data nama yang terdaftar di lembaga resmi pemberi nama spesies. Nama ini biasa tidak dimiringkan atau diberi garis bawah.
Cara membaca nama ilmiah
Cara membaca nama ilmiah sangat mirip dengan membaca dalam bahasa indonesia. Karena memang membaca dalam bahasa latin mirip dengan membaca dalam bahasa indonesia. Contoh: Gymnocalicium mihanovichii dibaca gim-no-ka-li-ci-um-mi-ha-no-vi-ci-i